TAIPEI, 9 Juli 2026 /PRNewswire/ — Sebanyak lebih dari 850 perusahaan sebagai emiten di Bursa Efek Taiwan, mewakili lebih dari 80% kapitalisasi pasar, berpartisipasi dalam 10th Cathay Sustainability Finance & Climate Change Summit pada 1 Juli lalu. Angka partisipasi ini merupakan yang terbesar dalam sejarah penyelenggaraan ajang tersebut. Sejumlah pembuat kebijakan, investor global, pelaku usaha, dan pakar internasional juga hadir untuk membahas berbagai tantangan dan peluang dalam transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan. Pencapaian dari sisi jumlah peserta semakin memperkuat posisi Cathay Financial Holdings (Cathay FHC) sebagai salah satu penggerak utama dalam dialog seputar pendanaan untuk perubahan iklim (climate finance) dan transisi berkelanjutan di Asia.

More than 5,800 participants from over 2,000 organizations gathered at Cathay Financial Holdings’ 10th Sustainability Finance & Climate Change Summit, underscoring its growing role as a leading convener of climate finance and sustainable transition across Asia. (Source: Cathay Financial Holdings)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah ketidakpastian geopolitik global, transisi energi yang berjalan kian cepat, serta meningkatnya kebutuhan pendanaan untuk mendukung transformasi menuju ekonomi rendah karbon, Asia sangat berperan menggerakkan investasi, inovasi, dan pengembangan teknologi. Dalam konteks tersebut, ajang tahunan Cathay FHC ini berkembang menjadi salah satu wadah diskusi terkemuka di kawasan yang mempertemukan regulator, investor, dunia usaha, dan akademisi guna membahas arah pertumbuhan ekonomi yang lebih tangguh dan inklusif.
Acara dibuka melalui pesan video dari mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Al Gore, salah satu tokoh yang menginspirasi penyelenggaraan forum perdana pada 2017, serta Ketua Taiwan Financial Supervisory Commission (FSC), Jin-lung Peng. Hadir pula sejumlah pembicara internasional, antara lain Wakil Menteri Perekonomian Taiwan Chin-Tsang Ho; Chairman, Taiwan Stock Exchange Sherman Lin; Vice Chairperson, FSC Taiwan Sherri Chuang; CEO, Asia Investor Group on Climate Change (AIGCC), Rebecca Mikula-Wright; Profesor Ryo Kohsaka dari University of Tokyo; Energy Director, Climate Group, Sam Kimmins; serta Chairman, Taiwan Power Company, Vincent Tseng. Profil pembicara ini mencerminkan peran dari ajang ini sebagai forum yang menyatukan perspektif internasional dengan agenda transisi iklim di Asia.
Perubahan Iklim Kini Menjadi Risiko Sistemik
Ketika membuka ajang ini, President, Cathay FHC, Chang-Ken (CK) Lee, mengatakan bahwa perubahan iklim kini bukan hanya menjadi isu lingkungan hidup. Menurutnya, dampak perubahan iklim telah meluas dan memengaruhi pertumbuhan ekonomi, daya saing industri, stabilitas pasar keuangan, hingga kehidupan masyarakat sehari-hari.
Lee menyinggung pengalamannya saat menghadiri London Climate Action Week beberapa hari sebelumnya. Saat itu, suhu udara di London mencapai 37–38 derajat Celsius, sebuah kondisi yang menurutnya menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim telah dirasakan secara nyata. Ia juga menyoroti kelompok masyarakat rentan yang sering kali memiliki keterbatasan sumber daya untuk menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.
Lee menegaskan kembali komitmen Cathay FHC terhadap tiga prinsip utama, yakni menciptakan nilai tambah jangka panjang, mendorong inovasi, dan memperkuat kolaborasi. "Lembaga keuangan memiliki peran penting dalam mengarahkan aliran modal menuju penciptaan nilai tambah jangka panjang," ujar Lee. "Inovasi dalam bidang energi bersih, teknologi rendah karbon, modal alam, dan ekonomi sirkular tengah membentuk industri masa depan. Keberlanjutan kini menjadi bagian penting dari daya saing jangka panjang. Di saat yang sama, kolaborasi lintas-sektor dan lintasnegara menjadi kunci untuk mempercepat penerapan solusi nyata sekaligus mendukung transisi global."
Menurut Lee, pembahasan dalam forum ini juga terus berkembang dari tahun ke tahun. Jika pada awal penyelenggaraan fokus utamanya adalah peningkatan kesadaran publik terhadap perubahan iklim dan tata kelola iklim, kini cakupannya meluas ke isu pengelolaan sumber daya air, modal alam, blended finance, inovasi keuangan, hingga investasi berdampak positif yang berpihak pada masyarakat. "Semakin banyak contoh keberhasilan investasi berkelanjutan yang muncul di berbagai negara. Tantangan berikutnya, kita harus memperluas penerapan solusi yang telah terbukti sukses dan mengubah komitmen bersama menjadi hasil yang nyata," katanya.
Apresiasi dari Pemimpin Nasional dan Global
Dalam sambutannya, Chairman, FSC Taiwan Jin-lung Peng, mengapresiasi kontribusi Cathay FHC selama satu dekade terakhir dalam mendorong perkembangan keuangan berkelanjutan dan aksi iklim di Taiwan. Mengutip pepatah Tiongkok yang berarti "kebajikan tidak pernah berjalan sendiri", Peng menegaskan bahwa lembaga keuangan bukan hanya penyedia modal, tetapi juga motor penggerak transformasi industri. Menurutnya, FSC akan terus memperkuat pengembangan pasar pembiayaan hijau dan pembiayaan transisi di Taiwan, serta mendorong lahirnya berbagai solusi keuangan inovatif yang membantu dunia usaha mempercepat transformasi dan meningkatkan ketahanan bisnis.
Sementara itu, Al Gore menyampaikan ucapan selamat atas penyelenggaraan 10th Cathay Sustainability Finance & Climate Change Summit melalui pesan video khusus. Ia mengaku gembira melihat perkembangan ajang yang pertama kali digelar pada 2017 tersebut menjadi salah satu platform utama yang membahas keuangan berkelanjutan di Taiwan.
Gore juga mengapresiasi Cathay FHC dan para peserta yang terus menunjukkan kepemimpinan dalam isu keberlanjutan di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Menurutnya, meski transisi energi dunia masih menghadapi berbagai tantangan, arus investasi global terus bergerak dari energi fosil menuju energi bersih sehingga proses transisi tersebut semakin sulit untuk dibalikkan. Ia mendorong sektor keuangan dan dunia usaha agar terus mengarahkan investasi pada pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan masyarakat yang lebih tangguh menghadapi perubahan iklim.
Membahas Masa Depan Layanan Keuangan Berkelanjutan di Asia
Dengan tema "Innovating for a Resilient Sustainable Future", forum tahun ini membahas berbagai langkah yang dapat ditempuh pemerintah, lembaga keuangan, pelaku usaha, dan inovator untuk mempercepat transisi berkelanjutan di Asia melalui harmonisasi kebijakan, mobilisasi modal, inovasi teknologi, dan kolaborasi lintas-sektor.
Sesi pagi membahas cara mempertahankan komitmen terhadap isu keberlanjutan di tengah dinamika global. Para pembuat kebijakan memaparkan perkembangan terbaru seputar kebijakan keuangan berkelanjutan di Taiwan, strategi mendukung perusahaan inovatif, serta arah transisi hijau nasional.
CEO, AIGCC, Rebecca Mikula-Wright, menyampaikan bahwa investor institusi di Asia kini semakin memandang risiko iklim sebagai risiko keuangan. Ia juga menyoroti bagaimana perubahan geopolitik global turut menata ulang sistem energi dan mendorong investasi menuju target net-zero.
Profesor Ryo Kohsaka dari University of Tokyo memaparkan strategi Nature Positive yang diterapkan Jepang dan menjelaskan bagaimana perusahaan dapat memasukkan risiko serta peluang terkait lingkungan hidup ke dalam proses pengambilan keputusan bisnis.
Sesi sore mengangkat tema "Accelerating Innovation and Building Resilience" dengan fokus pada transisi energi, modal alam, inklusi sosial, dan solusi berbasis industri. Energy Director, Climate Group, Sam Kimmins membahas tantangan keamanan energi di Asia, serta peluang pengembangan konsep 24/7 Carbon-Free Energy (24/7 CFE) di Taiwan. Ia juga mengapresiasi langkah Cathay FHC yang menjadi lembaga keuangan pertama di dunia yang bergabung dalam inisiatif tersebut.
Chairman, Taiwan Power Company, Vincent Tseng memaparkan perkembangan terbaru sistem kelistrikan Taiwan dan menjelaskan upaya menjaga keseimbangan antara keandalan pasokan listrik, target net-zero, dan daya saing industri.
Dua sesi panel penutup membahas berbagai contoh transformasi rendah karbon lintas-sektor serta perkembangan ekosistem inovasi keberlanjutan di Taiwan. Para pembicara menyoroti peran teknologi digital, efisiensi energi, produk keuangan hijau, dan kolaborasi rantai pasok dalam memperkuat ketahanan perusahaan, serta membahas tantangan pendanaan dan regulasi yang masih dihadapi usaha rintisan berkelanjutan di Asia.
Mendorong Penguatan Ekosistem Keuangan Berkelanjutan Asia
Dalam satu dekade terakhir, Cathay Sustainability Finance & Climate Change Summit berkembang dari forum domestik menjadi salah satu platform dialog keuangan berkelanjutan yang paling berpengaruh di Asia. Sejak pertama kali digelar pada 2017, forum ini telah menghadirkan lebih dari 150 pembicara dan tokoh terkemuka dari berbagai negara. Selama tiga tahun berturut-turut, perusahaan yang berpartisipasi dalam forum ini mewakili lebih dari 80% kapitalisasi pasar Bursa Efek Taiwan dan lebih dari separuh total emisi karbon nasional. Capaian tersebut menunjukkan semakin besarnya pengaruh forum ini dalam mendorong transformasi ekonomi menuju model pembangunan yang lebih berkelanjutan.
Ke depan, Cathay FHC akan terus mengembangkan forum ini sebagai platform regional yang mempertemukan modal, kebijakan, dan inovasi guna mempercepat transisi Asia menuju ekonomi yang tangguh, rendah karbon, dan mendukung pemulihan alam. Melalui kolaborasi yang lebih erat dengan pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan mitra internasional, Cathay FHC ingin memperkuat ekosistem keuangan berkelanjutan di Asia, serta meningkatkan kontribusi kawasan terhadap agenda aksi iklim global.
Portal berita ini menerima konten video dengan durasi maksimal 30 detik (ukuran dan format video untuk plaftform Youtube atau Dailymotion) dengan teks narasi maksimal 15 paragraf. Kirim lewat WA Center: 085315557788.











